Transsulbarnews.com – Aktivitas pelangsiran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, perhatian publik tertuju pada SPBU Pertamina Bunde No. 74.915.68 yang diduga lebih mengutamakan kendaraan pelangsir dibanding masyarakat umum yang benar-benar membutuhkan solar subsidi.
Pantauan dan keluhan warga menyebut antrean kendaraan yang diduga milik pelangsir kerap mendominasi area pengisian solar di SPBU tersebut. Kondisi itu memicu keresahan masyarakat, khususnya sopir angkutan dan petani serta sopir truk pengangkut material yang mengaku sering tidak kebagian BBM subsidi.Selasa,26/5/2026
“Setiap hari yang antre itu kendaraan yang sama. Masyarakat biasa justru harus menunggu lama, bahkan sering pulang kosong,” ungkap salah seorang warga Kecamatan Tommo dan Sampaga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Praktik pelangsiran BBM subsidi sendiri bukan isu baru di berbagai daerah. Sejumlah laporan media di Indonesia juga menyoroti dugaan SPBU yang melayani kendaraan pelangsir secara berulang hingga menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan solar subsidi.
Solar subsidi sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat kecil, nelayan, petani, dan sektor transportasi tertentu. Namun di lapangan, kendaraan yang diduga digunakan untuk menimbun atau menjual kembali BBM subsidi disebut bebas keluar masuk SPBU tanpa pengawasan ketat.
Situasi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran hingga kemungkinan permainan oknum tertentu dalam distribusi BBM subsidi. Jika benar terjadi, praktik tersebut jelas merugikan masyarakat dan bertentangan dengan aturan distribusi energi bersubsidi dari pemerintah.
Masyarakat Kecamatan Sampaga dan Tommo kini mendesak aparat penegak hukum serta pihak terkait segera turun tangan melakukan pengawasan langsung di SPBU Pertamina 74.915.68 agar distribusi solar subsidi benar-benar tepat sasaran.
Warga berharap pemerintah tidak tutup mata terhadap dugaan praktik pelangsiran yang dinilai semakin terang-terangan dan meresahkan masyarakat kecil.
(Akmal)















